Selanjutnya, ke areal pelabuhan Balige, tempat berlangsungnya lomba, tampak juga pengunjung sangat ramai di sana, yang juga masih tampak didominasi oleh pengunjung domestik. Saat itu senja menjelang malam, ada beberapa orang berkulit putih berkumpul di areal tersebut. Setelah awak media mendekati dan mengajak mereka berbincang-bincang, ternyata mereka bukan turis mancanegara. Mereka adalah yang tergabung dalam tim lomba, mulai dari official, mekanik/teknisi hingga driver (pengemudi) speedboad peserta lomba. Yang pasti mereka bukan turis mancanegara yang khusus berkunjung untuk berwisata. Seraya menunggu mobil jemputan untuk diantar ke penginapan, mereka juga dengan senang hati mau berfoto bersama masyarakat yang antusias minta foto bareng.
Melalui laporan reportase ini patut juga disampaikan agar kondisi ini, kiranya dapat menjadi evaluasi bagi panitia penyelenggara. Mengingat salah satu tujuan penyelenggaraan event ini adalah sebagai ajang untuk menghidupkan kembali dan mengembangkan dunia kepariwisataan di Sumatera Utara, khususnya di seputaran wilayah Danau Toba, yang tentunya diharapakan dapat mendongkrak jumlah tamu yang bukan hanya dari kalangan domestik, tapi lebih dari itu, kunjungan tamu mancanegara paling diharapkan dapat meningkat.
Untuk saat ini boleh dikatakan karena ini masih event yang pertama. Benar. Tapi kiranya jangan terlena dengam alasan klasik begitu. Evaluasi yang faktual sebaiknya serius dilakukan guna menemukan formula baru dan jitu untuk menarik perhatian para turis mancanegara di event-event selanjutnya di kemudian hari. Evaluasi yang dilakukan sebaiknya menyeluruh, dari pusat hingga ke daerah.
Marolop Nainggolan/ed. MN